Kamis, 12 Februari 2009

6. BIANG TERKIKISNYA RASA KEBERSAMAAN

Bersama memang tidak selalu berada dalam kesamaan pandangan. Bersama boleh berbeda dalam soal soal prinsip, baik menyangkut soal harga diri, Keyakinan atau tujuan tertentu. Bersama tidak selalu harus melek-melek sampai pagi di cafĂ© atau di lesehan untuk “menemani” aspek toleransi cara begadang. Begadang boleh bersama, asal satu sama lain dapat menjaga tepo sliro dan warna selera. Pikiran yang waras tidak harus mengiyakan suatu kebengkokan meski dalam satu wadah.
Makna kebersamaan adalah adanya kesamaan pandangan dalam menuju suatu tujuan, sebaliknya menghargai ketidaksamaan persepsi apabila menjurus kepada hal hal yang merusak tujuan itu sendiri.

Rasa kebersamaan adalah suatu unsur sikap hidup yang positip, karena dari kebersamaan itu tersembunyi saling kepedulian dalam soal soal tertentu, saling peduli tentang nasibnya, kepentingannya, kebutuhannya dan sebagainya.
Pengertian ini menjurus kepada pemahaman bahwa dalam membawa diri ditengah individu yang lain harus mampu memberikan sumbang sih jati dirinya secara pas. Bentuk sumbang sih memang sangat kompleks, bisa tenaga, pemikiran, fasilitas atau kewenangan sepanjang berbendera budi pekerti yang terpuji.

Menjadi manusia dalam hidup kebersamaan adalah sebuah wujud yang harus melekat pada garis garis kemasyarakatan. Apa artinya bermasyarakat jika kosong dari jiwa kebersamaan. Jiwa ini bisa tumbuh dan berkembang jika individu-individu mau dan mampu memahami falsafah kesetiaan. Setia terhadap fitrahnya sebagai makhluk social, setia terhadap kejujuran nuraninya, setia pula terhadap segala aturan secara konvensional dalam bertradisi dan beradat.
Konteks hidup kebersamaan dalam bermasyarakat dalam arti yang sesungguhnya adanya komitmen individu individu, dalam menyuarakan kebenaran dan tak retak dalam menahan kemungkaran, jika terjadi kerancuan dalam hidup kebersamaan, adalah sebuah panorama kehidupan, tetapi jika rasa kebersamaan telah melekat, kendala kerancuan bisa diganti sebagai kelengkapan kehidupan.

Lalu bagaimanakah rasa kebersamaan dalam kehidupan kita sehari hari bisa terkikis ? tentu bukan satu , dua masalah yang menjadi penyebabnya.
Bisa karena kejenuhan hidup, adanya kompetisi tidak sehat, adanya keinginan untuk bebas dari lingkungan dan lain-lain.

Beberapa ancaman terkikisnya rasa kebersamaan, antara lain : ( Terlepas disepakati atau bisa dijadikan pembahasan diskusi ).

Pertama, Kompetisi berkehidupan yang semakin modern , Global.

Hidup yang tanpa dilandasi keyakinan dan sehatnya Iman menjadi hidup yang selalu sakit oleh galaunya perasaan, perasaan tidak puas, serba was was, tidak istiqomah dan perasaan perasaan lainnya yang menggoncang kehidupan yang baik.
Globalisasi kompetisi sebagian karena adanya iming iming atau nikmatnya materi, materi nyaris menjadi alat yang bisa mengangkangi segala kemauanya, jika hasilnya menggembirakan akan menjadikan kesombongan, jika sebaliknya akan bisa berakibat frustasi, sakit hati dan mencari kambing hitam.
Materi adalah salah satu diantara kebutuhan hidup, Hidup tanpa ditopang oleh materi mustahil terjadi kelabilan, sayangnya, dalam aktifitas kita mencari materi sering diidentikan pencarian rejeki. Padahal antara kedua hal tersebut tidak selamanya sama. Rejeki tidak terbatas hanya bersifat materi, sebaliknya materi bisa jadi tidak sebagai rejeki. Karena banyak diantara kita yang berlimpah materi tetapi tidak bisa menikmatinya, bisa karena penyakit kronisnya, bisa juga mengundang fitnah atau bisa membawa petaka karena lahirnya kecemburuan social.
Oleh karena itu rincian rezeki bisa kita pandang sebagai yang bersifat material, juga dari sisi lain yang bersifat Immaterial. Sifat Immaterial inilah berupa kehormatan, kepercayaan, kesehatan, kedamaian dan lainnya.

Kedua, Merasa Hebat

Merasa hebat bisa diterjemahkan sebagai lebih unggul, lebih diantara yang lebih, dan masih sederet merasa lebih yang lain. Karena itulah merasa lebih hebat merupakan sebagian unsur gaya hidup tertentu yang malanda kehidupan manusia dan secara implisit gaya hidup tersebut kontradiktip dengan budi pekerti yang positip.
Jadi pada hakikatnya jiwa seseorang yang terkena noda karena kelebihan kelebihannya, hartanya, ilmunya atau fasilitas hidup yang lainnya. Dari kondisi ini akan membawa pada sikap hidup memandang rendah terhadap sesamanya
Gaya hidup tersebut bisa juga terjadi bagi mereka yang kurang mampu tetapi disebabkan oleh penjajahan kebiasaan. Gaya hidup seperti ini menjadi sulitdipisahkan dari aspek kehidupan yang lain. Bisa terjadi karena mungkin jiwa kepriyayian yang kelewat mengakar sehingga memakan pola pikirnya.

Ketiga, Perlombaan Mencari Popularitas

Popularitas merupakan sebagian kebutuhan hidup manusia, dan juga milik sebagian manusia itu sendiri.
Popularitas memang tidak selamanya negatip, tetapi pada tulisan ini popularitas yang menjadi sebab mengendornya jiwa kebersamaan, maka disebut popularitas disini identik membeberkan unsur moralitas individu atau kelompok, dimana hanya mengejar popularitas tega menelanjangi teman seiring, partner kerja yang telah lama bersamanya Hanya demi popularitas kadang rela menjual nama baiknya, siap menggadaikan kepentingan masyarakat atau membohongi diri sendiri meski bertentangan dengan nurani dan jalan pikiran sehatnya.

Untuk mencapai kepopuleran, mau tidak mau memamerkan sebuah kekuatan, kekuatan bisa dari materi, kemapanan, Ilmu, Kewenangan, Jabatan, secara inklusif pamer kekuatan ini tidak hanya riya’ yang menjadi inti dari kegiatan, tetapi sudah menonjolkan kelebihan kelebihan yang lain harus disaingi.
Sedangkan menyaingi orang lain jika popularitas sebagai tujuan, adalah persaingan yang akan membawa petaka.
Sepanjang popularitas kita beli dengan modal kebanggaan, sepanjang itu pula rasa kebersamaan tetap terancam.
Sebaliknya jika popularitas kita arahkan pada gagasan gagasan yang bermanfaat, karya karya nyata, Budi pekerti yang luhur, tanpa kita cari, popularitas justru yang akan mengikuti kita. Ia yang akan berbicara pada dunia. Sebab dijaman yang penuh carut marut, tetap berani bicara jujur mengakui kemulusan dalam sisi yang lain.

Jaman, Waktu dan situasi adalah saksi yang tak pernah menipu diri apalagi berbasa basi.

Jika setiap individu mau dan mampu memahami falsafah hidup sebagai makhluk social yang meyakini tentang adanya ketergantungan dengan pihak lain, keyakinan itulah yang mestinya menjadi modal mentumbuh kembangkan rasa kebersamaan yang lebih komplit, kokoh, dan kuat.
Untuk itulah, rasa kebersamaan bisa kita wujudkan, manakala ketiga hal tersebut diatas kita lenyapkan dari pikiran kita.
Demikian, tulisan dari kami, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar