Setiap anggota badan manusia diperuntukan untuk tugas yang khusus. Adapun tanda sakitnya ialah ketidak mampuanya melaksanakan tugas itu,atau tugas itu dilaksanakan dalam keadaan kacau. Tangan yang sakit terlihat dari ketidak mampuanya memegang, Mata yang sakit terlihat dari ketidakmampuanya melihat. Hati yang sakit terlihat dari ketidakmampuanya melaksanakan tugas khusus yang karenanya ia ciptakan, yaitu ilmu hikmah, ma’rifat,mencintai Allah dan beribadah kepadaNya serta mementingkan semua ini dari pada setiap bisikan nafsu.
Orang yang mengetahui segala sesuatu ,tetapi tidak mengetahui Allah, seakan-akan dia tidak mengetahui sesuatupun.Tanda ma’rifat adalah cinta. Siapa yang mengetahui Allah tentu mencintaiNya. Adapun tanda cinta adalah tidak mementingkan sesuatu dari sekian banyak hal-hal yang dicintainya daripada Allah. Siapa yang lebih mementingkan sesuatu yang dicintainya daripada cintanya kepada Allah berarti hatinya sakit. Sebagaimana perut yang lebih suka memakan tanah daripada roti , maka perutnya tidak beres alias sakit.
Penyakit hati ini tersembunyi . Boleh jadi pemiliknya tidak tahu, karena itu dia mengabaikanya . Kalupun tahu , mungkin dia tidak sabar menanggung pahitnya obat, karena obatnya adalah menentang nafsu . Kalaupun dia sabar ,belum tentu dia mendapatkan dokter yang bisa mengobatinya .
Apabila obat hati dan penyakit hati sama-sama dibiarkan, maka manusia hanya sekedar melakukan ibadah-ibadah zhahir, sedangkan didalam batinya hanya sekedar tradisi , inilah yang disebut tanda sumber penyakit Untuk mengetahui keadaan agar segar kembali setelah berusaha melakukan pengobatan ialah dengan melihat jenis penyakitnya . pengobatan penyakit kikir ialah dengan mengeluarkan harta , tapi tidak perlu berlebih-lebihan dan boros .
Jika menumpuk harta dan mempertahankannya lebih engkau sukai dan lebih mudah daripada mengeluarkanya sekalipun kepada orang yang berhak, maka ketahuilah bahwa yang ada pada dirimu adalah sifat kikir. Maka obatilah jiwamu dengan mengeluarkan harta yang diperoleh itu kepada para fakir miskin dll. karena harta yang diperolehnya perlu dibersihkan. Janganlah engkau lebih condong untuk menahan untuk mengeluarkan harta. Buatlah harta itu mengalir seperti air disisimu . Engkau tidak menuntut air itu untuk berhenti bukan untuk suatu keperluan, atau mengalirkanya secara deras untuk orang yang memerlukanya . Setiap hari yang bisa seperti itu akan mendatangi Allah dalam keadaan selamat.
Seseorang harus terbebas dari segala akhlak (jelek), agar dia tidak mempunyai hubungan dengan sesuatupun dari keduniaan, agar jiwa dapat meninggalkan dunia dalam keadaan memutuskan hubungan denganya , tidak menoleh kepadanya dan tidak mengharapkanya . Pada saat itu dia kan kembali kepada Rabb-nya sebagaimana kembalinya jiwa yang mutma’inah.
Karena jalan tengah yang hakiki antara dua sisi itu cukup sulit dideteksi, bahkan lebih lembut dari pada sehelai rambut dan lebih tajam dari pada sebilah pedang, maka tidak aneh siapa yang bisa melewati jalan yang lurus ini di dunia, tentu akan bisa melewati jalan ini pula di akherat. Karena sulitnya istiqomah , maka hamba diperintahkan membaca ,”Ihdinash-shirathal-mustaqim” beberapa kali setiap hari. Siapa yang tidak sanggup istiqomah, hendaklah dia berusaha mendekati istiqomah, karena keselamatan itu hanya dengan amal shalih .Sementara itu , amal shalih tidak keluar kecuali dari akhlak yang baik. Maka hendaklah setiap hamba mencari sifat dan akhlaknya sendiri , hendaklah mengobati satu persatu dan hendaklah bersabar dalam masalah ini, karena dia akan mendapatkan keadaan yang enak seperti halnya anak kecil yang tadinya enggan disapih , tapi lama kelamaan dia merasa enaknya disapih . Bahkan andaikan dia ditawari untuk menyusu lagi, tentu dia akan menolaknya. Siapa yang menyadari umur yang pendek jika dibanding dengan kehidupan akherat yang panjang, maka dia akan berani menanggung beratnya perjalanan selama beberapa hari, untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi.
Ketahuilah bahwa bila Allah menghendaki kebaikan pada seseorang hamba , maka dia membuatnya tahu aib dirinya.
Setiap manusia mempunyai mata hati, dan siapa yang mempunyai mata hati , akan tetapi tidak takut terhadap aibnya dirinya. Jika dia tahu aib dirinya , maka memungkinkan baginya untuk mengobatinya. Tetapi mayoritas manusia tidak mau tahu aib dirinya sendiri. Kuman deseberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tidak tampak. Siapa yang ingin mengetahui aib diri sendiri, maka ada empat jalan yang bisa ditempuh :
· Mantapkan hati untuk beriman kepada Allah, beribadah dengan keikhlasan hati dan memperdalam Ilmu agama. adalah obat yang mujarab untuk mengobatinya..
· Mencari teman karib yang jujur , dapat dipercaya dan bagus agamanya. Dia bisa menjadikan teman karib itu sebagai pendampingnya , agar memberinya peringatan dari akhlak atau perbuatanya yang kurang baik . Amirul Mukminin Umar bin Al-Khathtab Radhiyallahu Anhu pernah berkata “semoga Allah merahmati seseorang yang mau menunjukan aib kami kepada kami”
Sesuatu kali dia bertanya kepada Salman tentang aib yang pernah dilakukanya . Maka salman menjawab “ Aku mendengar engkau pernah mengumpulkan dua jenis sayur dimeja makanmu dan engkau mengenakan dua macam pakaian, satu untuk siang hari satu lagi untuk malam hari. “Umar berkata, “Apakah ada selain itu ?”.”Tidak” jawab Salman “ kalau dua hal itu aku sudah tidak melakukannya lagi,” Jawab Umar bin Al-Khaththab.
Umar juga pernah bertanya kepada Hudzaifah, “apakah aku termasuk orang-orang munafik?” dia perlu bertanya seperti itu , sebab siapa yang kedudukanya semakin tinggi , maka tuduhan terhadap dirinya juga semakain gencar . Hanya saja dijaman sekarang jarang ada teman karib yang jujur dengan memiliki sifat seperti ini. Sedikit sekali teman yang tidak mencari muka atau tidak dengki.
Orang-orang salaf sangat suka jika ada seseorang yang menunjukan aib mereka . Sementara kita pada zaman sekarang justru marah besar jika ada seseorang yang menunjukan aib kita. Hal ini menunjukan lemahnya iman.
· Mengambil manfaat tentang aib dirinya dari penuturan musuhnya. Sebab mata yang penuh kebencian itu tentu akan memancarkan keburukan. Manfaat yang bisa diambil seseorang dari musuh , bisa mengingatkan aib dirinya . Hal ini lebih bermanfaat baginya daripada teman karib yang mencari muka dan menutup aibnya.
· Bargaul dengan manusia. Selagi dia melihat sesuatu yang tercela pada diri mereka, maka dia segera menjauhinya.
Sekian , dan semoga bermanfaat bagi siapa yang membacanya, Terima kasih.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar